14 Komentar

Hidup itu Memang Indah, Mbak

Hidup Dalam Gelap: Bagian Ketiga

Cerita: Odi Shalahuddin

(Terus terang saja, belum pernah aku mendengar orang bercerita dengan sedemikian terangnya. Tanpa tedeng aling-aling. Terbuka. Apalagi menyangkut hal-hal yang menurutku masih tabu untuk dibicarakan dengan orang lain. Atau aku saja yang masih terlalu kolot. Tapi jujur, baru sekali ini aku mendengar secara langsung kisah dari orang pertama.

Dia berbicara datar-datar saja. Tanpa emosi berlebihan. Tapi aku bisa merasakan. Seakan turut menjadi penyaksi. Bagai menonton sebuah film. Perasaan yang bergoyang. Wajar pula bila berkembang dalam imajinasiku sendiri. Dan aku merasa… Ah… beruntung memang dia tak melanjutkan secara detailnya.

Masih terbayang suara-suara petir yang menyambar. Keremangan dalam sebuah rumah tua yang kosong. Gemericik dan tumpahan air hujan. Dua insan berpasangan. Disambar, saling menyambar, mengiringi petir yang tak henti menyambar-nyambar. Lho, kok, seperti di film-film saja ya… Tapi aku telah merekam kisah itu dalam alat rekamku

Anak itu pamit. Bilang mau ke toilet. Aku sendiri pada ruang luas di lantai empat bekas pasar ini. Agak khawatir juga. Berada dalam ruang luas. Tapi sendiri. Ada dalam kesadaran berada dalam wilayah gelap dalam dongeng-dongeng yang disembunyikan ke anak-anak.

Ya, saya yakin para guru di sekolah tak pernah berbicara tentang kehidupan macam ini. Lebih kepada prasangka, stigmatisasi, dan menekankan pada kita tentang kegagalan hidup. Oleh karenanya dianjurkan untuk belajar giat, biar bisa menjadi orang-orang yang berguna. Menjadi dokter, menjadi pejabat, menjadi orang kaya. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri sekarang. Senyum penuh kegetiran).

Maaf, ya, Mbak. Nunggu lama ya… Maaf, memang perut tidak bisa diajak kompromi nih. Jadi ya, harus melepaskan hasrat biologis dulu… Hi..hi..hi.. Itu yang saya dengar dari kawan-kawan.

Tadi sudah sampai mana ya. Oh, ya, waktu saya di gedung tua itu ya, Mbak. Jadi, begitulah ceritanya. Sejak itu saya jadi berpasangan dengan Bambang. Kami jalan bareng, nyari uang bareng dengan ngamen di bus-bus kota, tidur bareng, dan yang penting itu, Mbak. Melek bareng kala malam. Hi..hi..hi.. bisa saling sambar-sambaran… Habis enak sih, Mbak.. Apalagi kalau udaranya dingin. Wong, udara panas saja, tetap enak kok.

Wah, hidup jadi terasa indah, Mbak. Bayangkan, kami benar-benar hidup beratap langit, beralas bumi. Eh, gak ding. Sering pakai atap walau atap seng yang bocor. Dan juga buminya, tanahnya, dah ketutup dengan aspal ataupun semen. Tapi, intinya begitulah Mbak. Seneng. Seneng yang ada di hati ini. Walau gak punya rumah, kita bisa berpindah-pindah. Cari tempat-tempat yang bisa dipake tidur. Sering juga kita tidur di alun-alun kota, loh, Mbak. Tanpa alas. Di atas rerumputan. Menggeletak begitu saja. Terlentang, memandang langit penuh bintang.

Saya gak tahu apa itu yang sering dikatakan orang-orang sebagai cinta. Cinta yang membuat buta, cinta yang membuat bahagia. Bambang tidak pernah mengatakan pada saya kalau dia cinta saya. Saya juga tidak pernah mengatakan cinta kepada dia. Pokoknya, ya kita jalani saja. Berjalan bersama. Hidup bareng, makan bareng, cari uang bareng, ketawa bareng. Untungnya gak pernah nangis bareng loh, Mbak. Kita lalui hari-hari tanpa menghitung hari. Mau menghitung hari buat apa juga bagi kami? Apakah ini hari Minggu, Jum’at, Rabu, tidak ada gunanya juga toh? Ya, kita jalani saja, karena kita memang tidak menunggu apapun.

Saya merasa nyaman berada di dekat Bambang. Juga merasa aman. Kecil-kecil si Bambang itu orangnya berani. Setidaknya bagi para pengamen, Bambang cukup diseganilah. Sehingga tidak ada yang berani mengganggu saya. Apalagi berlaku kurang ajar. Saya merasa beruntung, tidak seperti si Ani, atau si Si Rubiah, atau si Mala. Pertama kali mereka terlihat di jalanan, mereka harus mengalami dulu masa-masa percobaan. Percobaannya, ya itu, Mbak, dicobain sama laki-laki.

Saya pernah nanya sama Bambang, apakah dia ikut-ikutan juga mencoba? Dia bilang dulu pasti ikutan, bahkan sering dia yang memimpin. Tapi, sejak dia jalan sama saya Mbak, dia bilang tidak pernah ikutan lagi, tapi juga tidak melarang kawan-kawannya melakukan. Saya percaya sama dia Mbak. Malah makin sayang. Karena dia jujur. Coba kalau dia bilang tidak pernah, maka saya tidak akan bisa percaya.

Ya, begitulah kehidupan di jalanan Mbak. Orang-orang bisa bilang hidup enak, tanpa aturan, bebas merdeka, mau melakukan apa saja tidak ada yang melarang. Tapi ada juga yang bilang kita ini cuma mengotori kota saja. Hidup menggelandang, dengan pakaian seadanya, keliling kota, membuat mata tidak enak memandang. Karena itulah, kami jadi dianggap sebagai monster. Sering dikejar-kejar satpol pp  ataupun polisi.

Beruntung saya tidak pernah ketangkap, Mbak. Ya, saya dan Bambang, selama kami jalan bareng, selalu saja mendapatkan keberuntungan. Hadir di lokasi yang baru saja kena razia.

Kalau dari cerita kawan-kawan, ya, Mbak. Mereka diperlakukan seperti bukan manusia saja. Dikejar, dipukuli, ditendangi, lalu dibawa pakai truk. Dimasukkan ke panti, dikasih nasi basi. Atau nasi yang belum matang. Sehingga banyak yang menjadi sakit perut.

Ya, begitulah Mbak… Hidup saya bersama Bambang. Hidup yang indah dijalani.

Nah, begitu dong, Mbak. Tidak menangis, tidak memerah mukanya, Cuma tersenyum dan tertawa saja mendengarnya. Kalau begitu, saya kan semangat juga berceritanya.

Yogyakarta, 6 Juli 2011

__________________________

Ilustrasi gambar bersumber dari SINI

Tulisan Terkait:

Bagian Satu

Bagian Dua

Bagian Tiga

Bagian Empat

Iklan

14 comments on “Hidup itu Memang Indah, Mbak

  1. kesederhanaan yang

    hmmm

    bikin bergetar membacanya nih Om…

    saya harus bersukur masih bisa ini dan itu

    dan ternyata kan memang disekitar kita masih banyak yang lebih kekurangan

  2. hehehe..lanjut, bos…

  3. aktual ini pak he he he
    kapan-kapan saya diajari menulis yg baik ya he he
    makasih
    🙂

    bowobagus

  4. satu kata: ceritanya menarik, endinya pas…….
    ditunggu cerpen lainnya.:)

  5. ini sudah diedit ya mas odi..terasa ada yang lain atau hanya perasaan saya saja…

    • Inti cerita sama
      memang dikembangkan
      nah, pada bagian ketiga ini memang belum pernah ada
      jadi besar kemungkinan kisahnya bisa berkembang lagi
      lebih dari enam seri..
      he.h.e.he.h.eh.e.he

  6. Sepertinya ini cerita nyata kah…? atau hanya fiksi doank…jd penasaran ama kehidupan anak jalanan yg banyak bertebaran di sekitar kita . takut…ngeri..prihatin tp bikin penasaran !

    • Sungguh Diyan,
      ini adalah fiksi
      walau ada dalam nyata
      itu pasti benar adanya

      Dari banyak kisah yang terdengar
      tentang kehidupan yang samar
      berserak memenuhi ruang dan dianggap liar
      sedang tentulah mereka adalah warga dunia juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: