8 Komentar

Ketika Petir Menyambar, Saya pun Tersambar

Seri: Hidup dalam Gelap

Bagian Kedua

Cerita:  Odi Shalahuddin

(Sungguh, aku tak bisa menahan air mata yang melaju. Memang terasa malu. Di hadapannya. Dihadapan anak itu. Ia terlihat santai. Menghisap rokoknya dalam-dalam. Sambil memandangi wajahku. Tak kuasa, malah aku justru lebih banyak menunduk. Posisi yang terbalik. Di luar dugaan.

Ia seperti membiarkan aku larut. Menunggu waktu hingga bisa mengatasi diri sendiri. Tapi, apakah ini ruang kesadarannya atau lantaran sudah menjadi biasa. Maksudku menghadapi orang-orang semacam diriku. Seseorang yang mencari tahu, malah terjerambab dalam rasa malu.

Ah, malu? Mungkin ia tidak berpikir tentang itu. Ia tidak tengah mempermalukan diriku. Atau bahkan ia tidak merasakan bahwa aku benar-benar sangat malu. Malu terhadap diri sendiri. Tidak bisa menguasai diri. Malu terhadapnya, lantaran betapa aku menjadi sangat-sangat cengeng.  Ia yang ditempa perjalanan hidupnya. Menjadi nyata. Sedang dalam diriku, itu terasa jauh di luar jangkauan lantaran tidak pernah berpikir tentang orang-orang yang bisa dan pernah mengalaminya. Sungguh. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan!

Pikiranku sederhana saja. Bagaimana bisa orang-orang berada di dalam prostitusi? Aku ingin mengetahui latar belakangnya. Mengetahui kisah hidupnya. Keberuntunganku teramat sangat. Ketika tengah mencari informasi, seorang kawan memperkenalkan dengan kawannya yang pada akhirnya menghantarkan diriku mengenal dirinya. Ia bersikap sangat terbuka. Sangat, sangat terbuka bahkan. Melebihi keterbukaan siapapun orang yang aku kenal. Apalagi ia anak perempuan.

Ku keluarkan sapu tangan dari tas kecilku. Mencoba menyeka dan menghapus aliran air mata yang basah di pipi)

Ya, begitu Mbak. Di lap pakai sapu tangan. Biar kering pipi dari airmata. Gak perlu menangis. Seperti saya ini loh, mbak. Saya kan sudah bilang air mata saya sudah kering. Tapi, untuk Mbak, saya kira perlu menjaga ada air mata. Berarti ada rasa. Berarti ada sesuatu. Tapi jangan untuk saya. Karena itu pasti akan lebih membuat saya menderita. Tapi bukan pula berarti saya tidak memiliki rasa. Saya juga sering melamun kok, Mbak. Kalau melihat orang-orang di sekeliling saya, banyak hidupnya lebih parah daripada saya. Masak saya harus mengeluh di hadapan mereka?

Coba Mbak bayangkan, bila setiap perjalanan adalah ancaman. Termasuk tidurpun bisa tak tenang. Bagaimana orang harus bertahan? Berharap mimpi bisa menenangkan, nyatanya hanya mengulang-ngulang. Sesuatu yang tidak perlu untuk dikenang. Nah, Mbak, nangis bukanlah jalan. Jadi buat apa menangis? Kan begitu ya, Mbak-e?

Hm… Mbak mau mau ke toilet dulu, ya? Hm, di mana ya? Ada tapi kotor. Mau Mbak? Maklum di bekas pasar sih. Pasti kotornya. Dijaga terus, juga tetap kotor. Gak tahu tuh. Waktu baru dicat ulang, hanya bertahan berapa hari. Berikutnya sudah banyak coretan-coretan. Banyak yang buang hajat, malas membanjurnya. Tapi, gimana lagi? Susah. Ngasih tahu, dianggap sok tahu. Dianggap lupa diri. Ya, sudah. Diam saja.

Hm. Kalau mau ke toilet, Mbak, harus turun. Di lantai dua di pojokan Utara. Jalan terus, saja sampai mentok lalu belok kiri. Memang ramai di sana. Jadi hati-hati loh, Mbak. Banyak laki-laki penggoda. Tidak usah tergesa-gesa. Atau mau saya antar?

Tidak perlu, Mbak? Hm… mata Mbak masih kelihatan merah. Bagaimana, Mbak? Jadi ke toilet?

(Aku menggelengkan kepala. Mempersiapkan alat rekam yang tadi ku-pause, masih tergenggam dalam dekapan telapak tangan)

Saya lanjutkan, Mbak? Tadi sampai mana ya..?

Oh, ya. Setelah itu saya diajak Ngamen. Ngamen di terminal. Asyik juga, Mbak. Nyanyi lagu dangdut. Goyang-goyang pinggul. Penumpang pada senang loh, Mbak. Mangkanya, kata si Bambang, oh, ya, lelaki yang saya kenal itu, yang ngajak saya, namanya Bambang, Mbak. Itu ngakunya, sih. Gak tahu siapa nama aslinya. Saya juga gak pernah ngecek KTP-nya. Tapi iya kalau punya KTP. Banyak yang tidak punya KTP. Lha, bagaimana mengurusnya? Untuk membuat KTP diperlukan syarat-syarat soal surat-surat yang tidak juga kami punya. Kartu Keluarga, Akta Kelahiran… Ah… Masak bodohlah… Itu kan urusan negara. Kalau untuk kita sih urusan hidup. Jadi, tolong itu, Mbak.. Diomongin sama satpol PP, gak perlu razia-razia KTP dan segala macamnya. Masak tidak punya KTP bisa dianggap sebagai kejahatan. Banyak loh, kawan saya, dianggap pelacur, tertangkap razia malam,  karena tidak punya KTP. Belum lagi yang laki-laki, dianggap sebagai preman, lantaran juga tidak punya KTP. KTP itu seperti jimat, ya, mbak…. Kalau tidak punya seperti hidup di neraka saja. Tidak bisa berhubungan dengan bank, tidak bisa berhubungan dengan puskesmas. Jadi, ya berhubungan dengan rentenir aja deh yang gampang didapat walau tahu bunganya mencekik leher, Mbak. Tapi apa boleh buat. Kan begitu, ya, Mbak?

Lho, kok jadi ngelantur sih ngomongin KTP. Lanjut lagi ya, Mbak…

Bambang bilang, entah beneran atau hanya basa-basi. Katanya, Saya berbakat. Saya bisa menjadi penyanyi dangdut profesional. Untuk sementara harus latihan dulu. Latihan mental, menyanyi dalam bus-bus kota. Begitu katanya.

Wah, tentu saja saya senang sekali Mbak mendengarnya. Sungguh, itu pengalaman pertama dalam hidup saya menerima pujian dari orang lain. Biasanya Cuma cai-maki saja dari Pak Min dan Mpok Nah.. Atau rayuan memuakkan dari para tetangga. Jadi, melambung hati saya, Mbak. Bambang memang orang yang baik deh. Saya merasa bisa nyaman dekat dengan dirinya.

Sebenarnya, saya tidak pernah belajar beneran tentang lagu-lagu dangdut. Mungkin karena sering dengar di radio dan juga dari para tetangga saya yang sering dangdutan, tanpa sadar ada di kepala saya. Setidaknya aturan nadanya saya hafal Mbak. Ya, itulah yang saya nyanyikan, ditambah lagi, Bambang itu enak kalau main gitar. Maksudnya bukan enak untuk dimakan, loh, Mbak. He.h.eh.e.hee. Enak bermain gitar, berdangdut ria… Suaranya juga enak didengar. Serak-serak basah. Ah..ah…ah.. ah… Ha.ha.ha.ha.

 Si Bambang sering tanya sama saya, Mbak. Tanya asal dan rumah saya. Saya diam saja. Mau jawab gimana? Mau bilang tempat tinggal di pinggiran pembuangan sampah? Bisa ketawa dan jijik sama saya bagaimana? Atau bilang tinggal bersama  Pak Min dan Mpok Nah? Kalau diantar pulang bagaimana? Hidup menjadi tidak bebas lagi. Jadi, memang lebih baik saya diam saja, ya, Mbak.

Eh, dia tanya terus. Sampai saya bilang, ”saya datang dari sorga…” Dia malah ketawa ngakak.

”Sorga itu seperti apa? Membayangkan saja pasti kamu tidak bisa,” begitu komentarnya, Mbak. Terus saya bilang, ”Ya, sudah, saya dari neraka saja deh,” Dia ketawa lagi.

Loh, Mbak-e kok malah tertawa. Tapi bener Mbak. Daripada nangis lebih baik tertawa. Katanya sih tertawa itu bisa buat awet muda. Hidup bagaimana-pun dibuat tertawa saja.

Nah, Mbak. Lama-lama si Bambang itu komentar. “Pasti kamu kabur dari rumah. Wah, lebih baik pulang saja deh. Mending di rumah daripada gak jelas hidup seperti ini. Bahaya. Apalagi buat kamu, perempuan,”

”Biar!” sahutku.

”Nah, berarti, benar kabur kan? Kenapa kabur? Gak nyesel nanti?”

”Mau tahu aja,”

”Trus mau tinggal di mana?”

”Gak tahu,”

Begitu loh, Mbak, awal mula saya kenal orang luar. Ya, si Bambang itu. Hm, maaf, saya ngerokok lagi ya, Mbak.

Nah, akhirnya saya ngikutin aja si Bambang. Dia bingung juga waktu itu. Dia sih biasanya tidur di terminal. Tapi dia bilang khawatir bila aku ikutan tidur di terminal juga. Akhirnya kami jalan-jalan. Sampai ketemu gedung kosong. Lama gak dipakai. Ya, sudah kami masuk ke sana. Gelap. Gak ada lampu sih.

Kacaunya lagi, hujan turun deras banget, Mbak. Kami berdua. Di emperan. Dingin. Lama-lama kami merapat. Hujannya dari sore sampai malam gak berhenti. Banyak bocor sana-sini. Bambang ngajak cari tempat yang tidak bocor.

Terus-terang saya takut loh, Mbak. Gedung besar. Bangunan tua. Tidak ada listrik. Ih. Angker kali, ya, Mbak? Tapi Bambang bisa menenangkan saya. Syetan gak ada. Syetan adanya di kepala kita. Kalau gak ngebayangin Syetan, ya gak akan muncul. Bener juga kata si Bambang itu, ya, Mbak?

Terus… ih. Malu juga cerita selanjutnya, nih, Mbak. Tapi gak papa, ya Mbak? Mbak mau mendengarnya, kan?

Ih.. Mbak bisa membayangkan. Hujan deras. Bocor. Airnya sering menciprat tubuh kita. Rasanya jadi Dingin. Cuma berduaan lagi. Aku sendiri sih, awalnya biasa saja. Cuma merasa kedinginan.Terus Bambang duduk semakin dekat. Semakin merapat. Tubuh kami jadi dempet Mbak. Tangannya lalu merangkul saya. Ih, kok kerasa hangat. Beneran loh, Mbak. Saya senang saja sih, karena dingin sedikit terobati.

Kami menikmati suara air hujan yang turun dengan deras. Petir menyambar-nyambar. Tangan Bambang mulai membelai rambut saya. Makin hangat saja rasanya Mbak. Terus dia meluk saya. Wajahnya mendekat. Menyentuh pipi. Diam. Lalu bergeser ke kening. Lalu ke leher. Saya diam saja. Walau di dalam hati kok ada rasa gak karu-karuan. Eh, dalam keremangan, kelihatan wajah Bambang kok berubah. Tubuhnya kelihatan gemetar. Ia lalu menyosor bibir saya. Dilumatnya. Saya diam saja. Menikmati saja. Enak dirasa. Tapi lama-lama, kok saya bereaksi juga, ikutan melumat bibirnya Bambang. Kami berpelukan, berciuman. Sampai kami berebah.

Wah, disensor aja, ya, mbak. Mbak-e pasti lebih tahu dari saya deh. Ya, begitu itu, Mbak. Nah, wajah Mbak-e kok jadi berubah juga? Ayo…. kenapa, Mbak?  Sudah ya, soal ini gak usah dilanjutin prosesnya. Yang jelas, saat petir itu menyambar-nyambar, saya disambar. Lalu jadi saling sambar. Ha.h.ah.a.h.ah.ah.

Itulah pengalaman pertama saya, Mbak. Saya gak ngerti apa-apa. Ada darah, ada rasa sakit. Saya bingung. Memukuli dia terus. Tapi hari-hari kemudian, malah saya yang sering minta. Sakit tapi enak. Ngangenin, minta diulang.

Eh, Mbak, kok tersenyum-senyum sendiri sih. Sudah ah. Gak usah dilanjutin lagi., ya Mbak. Kalau saya cerita mendetail, pasti Mbak juga tidak akan menuliskannya. Percuma toh saya cerita tentang ini? Begitu kan Mbak?

Mbak… Mbak-e..

Mbak… Mbak…. kok malah jadi ngelamun

Yogya. 17 Januari 2011, dikembangkan lagi tanggal 4 Juli 2011

————————————

Sumber gambar dari SINI 

Tulisan Terkait:

Bagian Satu

Bagian Dua

Bagian Tiga

Bagian Empat

Iklan

8 comments on “Ketika Petir Menyambar, Saya pun Tersambar

  1. hehehe..mampir lagi, bos..
    salam

  2. sepertinya saya pernah baca deh mas..tapi judulnya lain…cerita yang membuat miris…

  3. Huuuu……napa pake acara di sensor juga ,sih !!
    khan mbak jg pengen bacain ampe mendetail tuh! wakkakakkakaa…
    lanjut bagian ke tiga,ach…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: