9 Komentar

Air Mata Saya Entah Kemana

Seri: Hidup dalam Gelap

Bagian Satu

 Oleh:  Odi Shalahuddin

(Sebuah pasar. Pasar tradisional kota ini. Pernah direnovasi beberapa tahun lalu. Menjadi tiga buah bangunan. Masing-masing empat lantai. Kini telah terlihat kusam. Apalagi di bangunan ketiga, yang berada di bagian belakang. Hampir semua kios sudah tidak terpakai lagi. Tidak ada transaksi. Beberapa kios di lantai dasar, justru menjadi tempat tinggal. Di setiap lantai, terlihat ada kardus bertumpuk di beberapa bagian. Kardus yang menjadi alas tidur.

Di belakang bangunan ketiga ini, ada sungai. Sebuah pintu, menghubungkan bangunan ini dengan sungai. Pintu yang tidak pernah terkunci.

Ada ruang kosong sekitar tiga-empat meteran dari pinggiran sungai hingga ke dinding bangunan. Namun terlihat sesak mengingat sepanjang ruang kosong telah berdiri bangunan-bangunan dari sisa-sisa barang bekas.

Kini, aku berada di lantai empat. Ruangan kosong yang membentang tanpa ada bangunan kios. Tapi tetap beratap. Tempat yang nyaman jadinya. Angin yang menyapa di siang ini, membuat diri terasa terobati dari rasa panas.

Di hadapanku, duduk seorang perempuan muda. Kukira umurnya belumlah genap 17 tahun. Aku membayangkan, seandainya saja terawat, ia akan terlihat sangat cantik. Tak kalah dengan bintang sinetron. Tapi nasib kehidupan siapa bisa menebak. Ia, perempuan muda itu, dipaksa untuk mengarungi kehidupan yang sama sekali tidak terbayangkan di kepalaku. Hati terasa sesak mendengar penuturannya. Bayangan pun seringkali lenyap dalam kepala, terasa susah untuk membangun konstruksi kehidupannya. Tapi ia biasa saja, berbicara lancar, tentang hidupnya, aku yang tak kuasa mendengarnya)

Mbak, Jangan menangis, dong. Saya nanti ikut sedih. Benar. Saya tidak mengada-ada. Cerita ini cerita tentang diri saya. Bukan cerita orang lain. Bukan pula khayalan. Sungguh. Jadi, janganlah menangis. Setidaknya, tidak menangis di depan saya. Nanti saya berhenti loh, ceritanya.

Bukankah tadi Mbak sendiri yang minta? Saya telah menyatakan bersedia. Sudah menandatangani persetujuan diwawancarai. Saya bersedia di foto, bersedia pula segala ucapan dicatat dan direkam. Lantas, mengapa Mbak begitu?

Saya sudah bercerita. Bercerita apa adanya. Malah, Mbak-e gak tahan mendengarnya? Dibuat santai saja, Mbak. Dianggap saja saya sedang mendongeng. Saya saja, yang menjalani, yang bercerita, tetap bisa bertahan. Kalau gak tahan, saya sudah mati dari dulu, Mbak. Atau setidaknya sudah menjadi gila. Kalau gila, pastilah tidak bisa cerita. Eh, kalau gila, Mbak-e pasti juga tidak akan menghubungi dan meminta saya, ya…

Terus-terang, saya sudah lupa bagaimana menangis. Lama saya tidak menangis. Menangis percuma buat saya. Tidak ada pengaruh apa-apa. Kalau saya menangis, lalu bisa dilahirkan kembali, saya tentu akan menangis, Mbak. Atau misalnya saya berubah tempat, berada di rumah sendiri, saya akan menangis, Mbak. Apalagi bila di rumah ada Bapak ada Ibu ada kakak ada adik yang saling menyayangi. Saya akan menangis menggerung-gerung. Seperti anak kecil. Saya tidak akan malu-malu. Tapi, nyatanya bukan begitu, Mbak. Saya hrus berhadapan dengan kehidupan nyata saya. Menangis malah buat capek. Membuang energi. Tidak merubah apa-apa. Karena itulah saya menganggap percuma. Kehidupan menyedihkan macam apa yang belum pernah saya lihat? Semuanya sudah saya saksikan, bahkan saya alami. Jadi saya malas menangis. Saya tidak tahu apakah masih ada air mata di dalam diri saya.

Tolong, dong, Mbak, jangan menangis, ya. Biar saya lanjutkan cerita. Padahal tadi baru pembukaan loh. Saya baru menyatakan tidak tahu siapa Ibu. Tidak tahu siapa Bapak. Tidak tahu siapa keluarga. Mau tanya kepada siapa? Tidak ada yang tahu, Mbak.

Pak Min dan Mpok Nah, semula saya kira orangtua kandung saya. Tapi nyatanya, bukan. Saya jadi paham. Sebelumnya saya sering protes dalam diri sendiri. Merasa tidak diperlakukan seperti anaknya. Seperti dibedakan dengan orang-orang yang saya anggap kakak dan adik saya. Seluruh pekerjaan di rumah dibebankan kepada saya. Masak air, memasak, mencuci pakaian, mencuci gelas dan piring kotor. Setelah itu bergelut dengan sampah-sampah, menyisihkan barang-barang yang laku dijual. Ya, pada akhirnya saya menjadi paham. Mereka memang bukan orangtua kandung saya.

Saya memang kabur. Siapa yang tahan dipukuli terus menerus? Dimaki-maki. Disebut anak Syetan juga. Padahal saya gak tahu syetan seperti apa. Mereka juga belum tentu tahu. Tapi saya tahu, sebutan itu jelek dan merendahkan. Apalagi Pak Min, berulang kali mencumbu paksa. Ingin memperkosa, saya, Mbak-e. Untungnya selalu gagal. Saya selalu bisa meloloskan diri. Biar saja saya pergi. Siapa tahu ada peruntungan baik buat hidup saya. Biar tahu rasa Pak Min dan Mpok Nah, kehilangan setoran 100 ribu sehari. Iya, Mbak.. itu yang ditargetkan buat saya. Kalau kurang, wah, bisa kena hajar lagi..

(Pikiranku melayang-layang. Sungguh. Banyak pertanyaan di kepala, menggedor-gedor ingin keluar. Lantas siapakah dia? Kemana orangtuanya? Apakah anak ini diculik dari orangtua kandungnya? Ya, seperti di sinetron-sinetron sekarang ini? Atau…? Ah…. sungguh… seandaianya aku jadi dia….)

Mbak, jangan menangis dong. Saya jadi resah kalau lihat orang nangis. Bingung mau ngapain. Mau ikutan nangis, pasti gak bisa. Bener, Mbak. Malah bingung saya. Ayo, toh, Mbak-e….

Saya itu, tadi bilang. Saya kabur. Kabur dari rumah. Kabur dari perkampungan di pinggiran kali, di pinggiran tempat pembuangan akhir sampah-sampah kota itu. Kata orang bau sekali. Tapi saya tak pernah terganggu. Mungkin karena biasa, kali, ya Mbak. Sejak bayi. Sampai sebelum saya meninggalkan tempat itu. Selalu saja menghirup aromanya. Malah, kadang-kadang jadi kangen juga dengan buanya… he.he.h.e.he.he.

Ya, itu, Mbak-e. Tujuan saya, kabur sejauh-jauhnya. Tapi ya, bingung juga. Saya tidak pernah keluar dari perkampungan itu. Saya gak tahu bagaimana kehidupan di luaran. Saya asal naik kendaraan saja. Saya membawa uang 200 ribu. Saya ambil dari bawah bantal mpok Nah. Angkutan berkeliling. Setiap ditanya mau turun mana, saya cuma bilang nanti masih jauh. Sampai supir bilang, sudah sampai. Saya turun. Di sebuah terminal. Ramai sekali. Saya bingung. Benar-benar bingung. Perut lapar. Saya masuk warung. Saya pesan makanan yang saya suka. Saya makan banyak, loh, Mbak. Habis, kalau di rumah, dijatah. Tidak bisa tambah. Uh, nikmatnya makan dengan bebas.

Setelah makan, bingung lagi. Keluar dari warung, Cuma memandang angkutan datang pergi. Sampai ada pengamen. Mendekati saya.

”Ngamen bareng, yuk,” katanya.

”Wah, gak bisa nyanyi,”

”masak cakep-cakep gak bisa nyanyi. Tapi gak papa. Suara jelek, orangnya cakep pasti diberi. Yuk ngamen,”

Dia langsung tarik tangan. Padahal belum kenal. Saya nyanyi. Dia pakai kentrung. Naik turun bus dan angkutan kota.

“Wah, luar biasa. Kamu hebat, kita bisa jadi partner,” katanya, “tinggal di mana?”

Aku diam.

”Tinggal di mana?”.

Aku diam. Bingung. Tidak tahu mau menjawab apa.

Ya, itulah Mbak. Itu pertamakali saya kenal di luar orang di perkampungan dengan tempat pembuangan sampah. Anak itu hampir sebaya. Mungkin 13 tahun. Saya sendiri gak tahu pasti umur saya. Kata orang-orang antara 10-12 tahun sih. Pak Min dan Mpok Nah waktu ditanya, malah sewot. “Gak penting tahu umur. Yang penting bisa hidup. Sudah”.

Mbak, jangan menangis, toh. Benar Mbak, saya jadi bingung. Tersenyum toh, Mbak. Ah, Mbak. Sudah ah, saya gak mau cerita. Padahal saya mau cerita panjang loh, Mbak. Tapi Mbaknya nangis terus. Ya, sudah.

Jangan menangis, Mbak. Saya jadi bingung. Sungguh Saya bingung nih, Mbak.. Ah, Mbak-e….. Jangan menangis dong. Sebab saya gak bisa ikutan nangis… Air mata saya mungkin sudah gak ada, Mbak.. Mbak-e……!

Yogya. 17 Januari 2011 dikembangkan lagi tanggal 3 Juli 2011

______________________

ilustrasi gambar diambil dari SINI

Tulisan Terkait:

Bagian Satu

Bagian Dua

Bagian Tiga

Bagian Empat

Iklan

9 comments on “Air Mata Saya Entah Kemana

  1. Di tunggu lanjutannya ya… ^_^

  2. hmmm…kalo ga salah ini pernah di publish di kompasiana ya,bos?
    salam..

  3. Ini cerpenyang saya suka….berseri kan?

    *ramdhani nur 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: