Tinggalkan komentar

POSTINGAN CERPEN SUDAH DIPINDAH

REKAN-REKAN SEKALIAN

SELURUH POSTINGAN CERPEN dan CERBUNG di BLOG ini

SUDAH SAYA PINDAHKAN KE:

http://odishalahuddin.wordpress.com

untuk mempermudah bisa dilihat kategorinya, atau daftar judul cerpen pada link berikut ini:

http://odishalahuddin.wordpress.com/daftar-judul-tulisan/judul-cerpen/

Terima kasih atas segala kunjungan dan apresiasi yang telah diberikan selama ini.

Salam hangat,

Odi Shalahuddin

 

Iklan
14 Komentar

Hidup itu Memang Indah, Mbak

Hidup Dalam Gelap: Bagian Ketiga

Cerita: Odi Shalahuddin

(Terus terang saja, belum pernah aku mendengar orang bercerita dengan sedemikian terangnya. Tanpa tedeng aling-aling. Terbuka. Apalagi menyangkut hal-hal yang menurutku masih tabu untuk dibicarakan dengan orang lain. Atau aku saja yang masih terlalu kolot. Tapi jujur, baru sekali ini aku mendengar secara langsung kisah dari orang pertama.

Dia berbicara datar-datar saja. Tanpa emosi berlebihan. Tapi aku bisa merasakan. Seakan turut menjadi penyaksi. Bagai menonton sebuah film. Perasaan yang bergoyang. Wajar pula bila berkembang dalam imajinasiku sendiri. Dan aku merasa… Ah… beruntung memang dia tak melanjutkan secara detailnya.

Masih terbayang suara-suara petir yang menyambar. Keremangan dalam sebuah rumah tua yang kosong. Gemericik dan tumpahan air hujan. Dua insan berpasangan. Disambar, saling menyambar, mengiringi petir yang tak henti menyambar-nyambar. Lho, kok, seperti di film-film saja ya… Tapi aku telah merekam kisah itu dalam alat rekamku

Anak itu pamit. Bilang mau ke toilet. Aku sendiri pada ruang luas di lantai empat bekas pasar ini. Agak khawatir juga. Berada dalam ruang luas. Tapi sendiri. Ada dalam kesadaran berada dalam wilayah gelap dalam dongeng-dongeng yang disembunyikan ke anak-anak.

Ya, saya yakin para guru di sekolah tak pernah berbicara tentang kehidupan macam ini. Lebih kepada prasangka, stigmatisasi, dan menekankan pada kita tentang kegagalan hidup. Oleh karenanya dianjurkan untuk belajar giat, biar bisa menjadi orang-orang yang berguna. Menjadi dokter, menjadi pejabat, menjadi orang kaya. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri sekarang. Senyum penuh kegetiran).

Maaf, ya, Mbak. Nunggu lama ya… Maaf, memang perut tidak bisa diajak kompromi nih. Jadi ya, harus melepaskan hasrat biologis dulu… Hi..hi..hi.. Itu yang saya dengar dari kawan-kawan.

Tadi sudah sampai mana ya. Oh, ya, waktu saya di gedung tua itu ya, Mbak. Jadi, begitulah ceritanya. Sejak itu saya jadi berpasangan dengan Bambang. Kami jalan bareng, nyari uang bareng dengan ngamen di bus-bus kota, tidur bareng, dan yang penting itu, Mbak. Melek bareng kala malam. Hi..hi..hi.. bisa saling sambar-sambaran… Habis enak sih, Mbak.. Apalagi kalau udaranya dingin. Wong, udara panas saja, tetap enak kok.

Wah, hidup jadi terasa indah, Mbak. Bayangkan, kami benar-benar hidup beratap langit, beralas bumi. Eh, gak ding. Sering pakai atap walau atap seng yang bocor. Dan juga buminya, tanahnya, dah ketutup dengan aspal ataupun semen. Tapi, intinya begitulah Mbak. Seneng. Seneng yang ada di hati ini. Walau gak punya rumah, kita bisa berpindah-pindah. Cari tempat-tempat yang bisa dipake tidur. Sering juga kita tidur di alun-alun kota, loh, Mbak. Tanpa alas. Di atas rerumputan. Menggeletak begitu saja. Terlentang, memandang langit penuh bintang.

Saya gak tahu apa itu yang sering dikatakan orang-orang sebagai cinta. Cinta yang membuat buta, cinta yang membuat bahagia. Bambang tidak pernah mengatakan pada saya kalau dia cinta saya. Saya juga tidak pernah mengatakan cinta kepada dia. Pokoknya, ya kita jalani saja. Berjalan bersama. Hidup bareng, makan bareng, cari uang bareng, ketawa bareng. Untungnya gak pernah nangis bareng loh, Mbak. Kita lalui hari-hari tanpa menghitung hari. Mau menghitung hari buat apa juga bagi kami? Apakah ini hari Minggu, Jum’at, Rabu, tidak ada gunanya juga toh? Ya, kita jalani saja, karena kita memang tidak menunggu apapun.

Saya merasa nyaman berada di dekat Bambang. Juga merasa aman. Kecil-kecil si Bambang itu orangnya berani. Setidaknya bagi para pengamen, Bambang cukup diseganilah. Sehingga tidak ada yang berani mengganggu saya. Apalagi berlaku kurang ajar. Saya merasa beruntung, tidak seperti si Ani, atau si Si Rubiah, atau si Mala. Pertama kali mereka terlihat di jalanan, mereka harus mengalami dulu masa-masa percobaan. Percobaannya, ya itu, Mbak, dicobain sama laki-laki.

Saya pernah nanya sama Bambang, apakah dia ikut-ikutan juga mencoba? Dia bilang dulu pasti ikutan, bahkan sering dia yang memimpin. Tapi, sejak dia jalan sama saya Mbak, dia bilang tidak pernah ikutan lagi, tapi juga tidak melarang kawan-kawannya melakukan. Saya percaya sama dia Mbak. Malah makin sayang. Karena dia jujur. Coba kalau dia bilang tidak pernah, maka saya tidak akan bisa percaya.

Ya, begitulah kehidupan di jalanan Mbak. Orang-orang bisa bilang hidup enak, tanpa aturan, bebas merdeka, mau melakukan apa saja tidak ada yang melarang. Tapi ada juga yang bilang kita ini cuma mengotori kota saja. Hidup menggelandang, dengan pakaian seadanya, keliling kota, membuat mata tidak enak memandang. Karena itulah, kami jadi dianggap sebagai monster. Sering dikejar-kejar satpol pp  ataupun polisi.

Beruntung saya tidak pernah ketangkap, Mbak. Ya, saya dan Bambang, selama kami jalan bareng, selalu saja mendapatkan keberuntungan. Hadir di lokasi yang baru saja kena razia.

Kalau dari cerita kawan-kawan, ya, Mbak. Mereka diperlakukan seperti bukan manusia saja. Dikejar, dipukuli, ditendangi, lalu dibawa pakai truk. Dimasukkan ke panti, dikasih nasi basi. Atau nasi yang belum matang. Sehingga banyak yang menjadi sakit perut.

Ya, begitulah Mbak… Hidup saya bersama Bambang. Hidup yang indah dijalani.

Nah, begitu dong, Mbak. Tidak menangis, tidak memerah mukanya, Cuma tersenyum dan tertawa saja mendengarnya. Kalau begitu, saya kan semangat juga berceritanya.

Yogyakarta, 6 Juli 2011

__________________________

Ilustrasi gambar bersumber dari SINI

Tulisan Terkait:

Bagian Satu

Bagian Dua

Bagian Tiga

Bagian Empat

8 Komentar

Ketika Petir Menyambar, Saya pun Tersambar

Seri: Hidup dalam Gelap

Bagian Kedua

Cerita:  Odi Shalahuddin

(Sungguh, aku tak bisa menahan air mata yang melaju. Memang terasa malu. Di hadapannya. Dihadapan anak itu. Ia terlihat santai. Menghisap rokoknya dalam-dalam. Sambil memandangi wajahku. Tak kuasa, malah aku justru lebih banyak menunduk. Posisi yang terbalik. Di luar dugaan.

Ia seperti membiarkan aku larut. Menunggu waktu hingga bisa mengatasi diri sendiri. Tapi, apakah ini ruang kesadarannya atau lantaran sudah menjadi biasa. Maksudku menghadapi orang-orang semacam diriku. Seseorang yang mencari tahu, malah terjerambab dalam rasa malu.

Ah, malu? Mungkin ia tidak berpikir tentang itu. Ia tidak tengah mempermalukan diriku. Atau bahkan ia tidak merasakan bahwa aku benar-benar sangat malu. Malu terhadap diri sendiri. Tidak bisa menguasai diri. Malu terhadapnya, lantaran betapa aku menjadi sangat-sangat cengeng.  Ia yang ditempa perjalanan hidupnya. Menjadi nyata. Sedang dalam diriku, itu terasa jauh di luar jangkauan lantaran tidak pernah berpikir tentang orang-orang yang bisa dan pernah mengalaminya. Sungguh. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan!

Pikiranku sederhana saja. Bagaimana bisa orang-orang berada di dalam prostitusi? Aku ingin mengetahui latar belakangnya. Mengetahui kisah hidupnya. Keberuntunganku teramat sangat. Ketika tengah mencari informasi, seorang kawan memperkenalkan dengan kawannya yang pada akhirnya menghantarkan diriku mengenal dirinya. Ia bersikap sangat terbuka. Sangat, sangat terbuka bahkan. Melebihi keterbukaan siapapun orang yang aku kenal. Apalagi ia anak perempuan.

Ku keluarkan sapu tangan dari tas kecilku. Mencoba menyeka dan menghapus aliran air mata yang basah di pipi)

Ya, begitu Mbak. Di lap pakai sapu tangan. Biar kering pipi dari airmata. Gak perlu menangis. Seperti saya ini loh, mbak. Saya kan sudah bilang air mata saya sudah kering. Tapi, untuk Mbak, saya kira perlu menjaga ada air mata. Berarti ada rasa. Berarti ada sesuatu. Tapi jangan untuk saya. Karena itu pasti akan lebih membuat saya menderita. Tapi bukan pula berarti saya tidak memiliki rasa. Saya juga sering melamun kok, Mbak. Kalau melihat orang-orang di sekeliling saya, banyak hidupnya lebih parah daripada saya. Masak saya harus mengeluh di hadapan mereka?

Coba Mbak bayangkan, bila setiap perjalanan adalah ancaman. Termasuk tidurpun bisa tak tenang. Bagaimana orang harus bertahan? Berharap mimpi bisa menenangkan, nyatanya hanya mengulang-ngulang. Sesuatu yang tidak perlu untuk dikenang. Nah, Mbak, nangis bukanlah jalan. Jadi buat apa menangis? Kan begitu ya, Mbak-e?

Hm… Mbak mau mau ke toilet dulu, ya? Hm, di mana ya? Ada tapi kotor. Mau Mbak? Maklum di bekas pasar sih. Pasti kotornya. Dijaga terus, juga tetap kotor. Gak tahu tuh. Waktu baru dicat ulang, hanya bertahan berapa hari. Berikutnya sudah banyak coretan-coretan. Banyak yang buang hajat, malas membanjurnya. Tapi, gimana lagi? Susah. Ngasih tahu, dianggap sok tahu. Dianggap lupa diri. Ya, sudah. Diam saja.

Hm. Kalau mau ke toilet, Mbak, harus turun. Di lantai dua di pojokan Utara. Jalan terus, saja sampai mentok lalu belok kiri. Memang ramai di sana. Jadi hati-hati loh, Mbak. Banyak laki-laki penggoda. Tidak usah tergesa-gesa. Atau mau saya antar?

Tidak perlu, Mbak? Hm… mata Mbak masih kelihatan merah. Bagaimana, Mbak? Jadi ke toilet?

(Aku menggelengkan kepala. Mempersiapkan alat rekam yang tadi ku-pause, masih tergenggam dalam dekapan telapak tangan)

Saya lanjutkan, Mbak? Tadi sampai mana ya..?

Oh, ya. Setelah itu saya diajak Ngamen. Ngamen di terminal. Asyik juga, Mbak. Nyanyi lagu dangdut. Goyang-goyang pinggul. Penumpang pada senang loh, Mbak. Mangkanya, kata si Bambang, oh, ya, lelaki yang saya kenal itu, yang ngajak saya, namanya Bambang, Mbak. Itu ngakunya, sih. Gak tahu siapa nama aslinya. Saya juga gak pernah ngecek KTP-nya. Tapi iya kalau punya KTP. Banyak yang tidak punya KTP. Lha, bagaimana mengurusnya? Untuk membuat KTP diperlukan syarat-syarat soal surat-surat yang tidak juga kami punya. Kartu Keluarga, Akta Kelahiran… Ah… Masak bodohlah… Itu kan urusan negara. Kalau untuk kita sih urusan hidup. Jadi, tolong itu, Mbak.. Diomongin sama satpol PP, gak perlu razia-razia KTP dan segala macamnya. Masak tidak punya KTP bisa dianggap sebagai kejahatan. Banyak loh, kawan saya, dianggap pelacur, tertangkap razia malam,  karena tidak punya KTP. Belum lagi yang laki-laki, dianggap sebagai preman, lantaran juga tidak punya KTP. KTP itu seperti jimat, ya, mbak…. Kalau tidak punya seperti hidup di neraka saja. Tidak bisa berhubungan dengan bank, tidak bisa berhubungan dengan puskesmas. Jadi, ya berhubungan dengan rentenir aja deh yang gampang didapat walau tahu bunganya mencekik leher, Mbak. Tapi apa boleh buat. Kan begitu, ya, Mbak?

Lho, kok jadi ngelantur sih ngomongin KTP. Lanjut lagi ya, Mbak…

Bambang bilang, entah beneran atau hanya basa-basi. Katanya, Saya berbakat. Saya bisa menjadi penyanyi dangdut profesional. Untuk sementara harus latihan dulu. Latihan mental, menyanyi dalam bus-bus kota. Begitu katanya.

Wah, tentu saja saya senang sekali Mbak mendengarnya. Sungguh, itu pengalaman pertama dalam hidup saya menerima pujian dari orang lain. Biasanya Cuma cai-maki saja dari Pak Min dan Mpok Nah.. Atau rayuan memuakkan dari para tetangga. Jadi, melambung hati saya, Mbak. Bambang memang orang yang baik deh. Saya merasa bisa nyaman dekat dengan dirinya.

Sebenarnya, saya tidak pernah belajar beneran tentang lagu-lagu dangdut. Mungkin karena sering dengar di radio dan juga dari para tetangga saya yang sering dangdutan, tanpa sadar ada di kepala saya. Setidaknya aturan nadanya saya hafal Mbak. Ya, itulah yang saya nyanyikan, ditambah lagi, Bambang itu enak kalau main gitar. Maksudnya bukan enak untuk dimakan, loh, Mbak. He.h.eh.e.hee. Enak bermain gitar, berdangdut ria… Suaranya juga enak didengar. Serak-serak basah. Ah..ah…ah.. ah… Ha.ha.ha.ha.

 Si Bambang sering tanya sama saya, Mbak. Tanya asal dan rumah saya. Saya diam saja. Mau jawab gimana? Mau bilang tempat tinggal di pinggiran pembuangan sampah? Bisa ketawa dan jijik sama saya bagaimana? Atau bilang tinggal bersama  Pak Min dan Mpok Nah? Kalau diantar pulang bagaimana? Hidup menjadi tidak bebas lagi. Jadi, memang lebih baik saya diam saja, ya, Mbak.

Eh, dia tanya terus. Sampai saya bilang, ”saya datang dari sorga…” Dia malah ketawa ngakak.

”Sorga itu seperti apa? Membayangkan saja pasti kamu tidak bisa,” begitu komentarnya, Mbak. Terus saya bilang, ”Ya, sudah, saya dari neraka saja deh,” Dia ketawa lagi.

Loh, Mbak-e kok malah tertawa. Tapi bener Mbak. Daripada nangis lebih baik tertawa. Katanya sih tertawa itu bisa buat awet muda. Hidup bagaimana-pun dibuat tertawa saja.

Nah, Mbak. Lama-lama si Bambang itu komentar. “Pasti kamu kabur dari rumah. Wah, lebih baik pulang saja deh. Mending di rumah daripada gak jelas hidup seperti ini. Bahaya. Apalagi buat kamu, perempuan,”

”Biar!” sahutku.

”Nah, berarti, benar kabur kan? Kenapa kabur? Gak nyesel nanti?”

”Mau tahu aja,”

”Trus mau tinggal di mana?”

”Gak tahu,”

Begitu loh, Mbak, awal mula saya kenal orang luar. Ya, si Bambang itu. Hm, maaf, saya ngerokok lagi ya, Mbak.

Nah, akhirnya saya ngikutin aja si Bambang. Dia bingung juga waktu itu. Dia sih biasanya tidur di terminal. Tapi dia bilang khawatir bila aku ikutan tidur di terminal juga. Akhirnya kami jalan-jalan. Sampai ketemu gedung kosong. Lama gak dipakai. Ya, sudah kami masuk ke sana. Gelap. Gak ada lampu sih.

Kacaunya lagi, hujan turun deras banget, Mbak. Kami berdua. Di emperan. Dingin. Lama-lama kami merapat. Hujannya dari sore sampai malam gak berhenti. Banyak bocor sana-sini. Bambang ngajak cari tempat yang tidak bocor.

Terus-terang saya takut loh, Mbak. Gedung besar. Bangunan tua. Tidak ada listrik. Ih. Angker kali, ya, Mbak? Tapi Bambang bisa menenangkan saya. Syetan gak ada. Syetan adanya di kepala kita. Kalau gak ngebayangin Syetan, ya gak akan muncul. Bener juga kata si Bambang itu, ya, Mbak?

Terus… ih. Malu juga cerita selanjutnya, nih, Mbak. Tapi gak papa, ya Mbak? Mbak mau mendengarnya, kan?

Ih.. Mbak bisa membayangkan. Hujan deras. Bocor. Airnya sering menciprat tubuh kita. Rasanya jadi Dingin. Cuma berduaan lagi. Aku sendiri sih, awalnya biasa saja. Cuma merasa kedinginan.Terus Bambang duduk semakin dekat. Semakin merapat. Tubuh kami jadi dempet Mbak. Tangannya lalu merangkul saya. Ih, kok kerasa hangat. Beneran loh, Mbak. Saya senang saja sih, karena dingin sedikit terobati.

Kami menikmati suara air hujan yang turun dengan deras. Petir menyambar-nyambar. Tangan Bambang mulai membelai rambut saya. Makin hangat saja rasanya Mbak. Terus dia meluk saya. Wajahnya mendekat. Menyentuh pipi. Diam. Lalu bergeser ke kening. Lalu ke leher. Saya diam saja. Walau di dalam hati kok ada rasa gak karu-karuan. Eh, dalam keremangan, kelihatan wajah Bambang kok berubah. Tubuhnya kelihatan gemetar. Ia lalu menyosor bibir saya. Dilumatnya. Saya diam saja. Menikmati saja. Enak dirasa. Tapi lama-lama, kok saya bereaksi juga, ikutan melumat bibirnya Bambang. Kami berpelukan, berciuman. Sampai kami berebah.

Wah, disensor aja, ya, mbak. Mbak-e pasti lebih tahu dari saya deh. Ya, begitu itu, Mbak. Nah, wajah Mbak-e kok jadi berubah juga? Ayo…. kenapa, Mbak?  Sudah ya, soal ini gak usah dilanjutin prosesnya. Yang jelas, saat petir itu menyambar-nyambar, saya disambar. Lalu jadi saling sambar. Ha.h.ah.a.h.ah.ah.

Itulah pengalaman pertama saya, Mbak. Saya gak ngerti apa-apa. Ada darah, ada rasa sakit. Saya bingung. Memukuli dia terus. Tapi hari-hari kemudian, malah saya yang sering minta. Sakit tapi enak. Ngangenin, minta diulang.

Eh, Mbak, kok tersenyum-senyum sendiri sih. Sudah ah. Gak usah dilanjutin lagi., ya Mbak. Kalau saya cerita mendetail, pasti Mbak juga tidak akan menuliskannya. Percuma toh saya cerita tentang ini? Begitu kan Mbak?

Mbak… Mbak-e..

Mbak… Mbak…. kok malah jadi ngelamun

Yogya. 17 Januari 2011, dikembangkan lagi tanggal 4 Juli 2011

————————————

Sumber gambar dari SINI 

Tulisan Terkait:

Bagian Satu

Bagian Dua

Bagian Tiga

Bagian Empat

9 Komentar

Air Mata Saya Entah Kemana

Seri: Hidup dalam Gelap

Bagian Satu

 Oleh:  Odi Shalahuddin

(Sebuah pasar. Pasar tradisional kota ini. Pernah direnovasi beberapa tahun lalu. Menjadi tiga buah bangunan. Masing-masing empat lantai. Kini telah terlihat kusam. Apalagi di bangunan ketiga, yang berada di bagian belakang. Hampir semua kios sudah tidak terpakai lagi. Tidak ada transaksi. Beberapa kios di lantai dasar, justru menjadi tempat tinggal. Di setiap lantai, terlihat ada kardus bertumpuk di beberapa bagian. Kardus yang menjadi alas tidur.

Di belakang bangunan ketiga ini, ada sungai. Sebuah pintu, menghubungkan bangunan ini dengan sungai. Pintu yang tidak pernah terkunci.

Ada ruang kosong sekitar tiga-empat meteran dari pinggiran sungai hingga ke dinding bangunan. Namun terlihat sesak mengingat sepanjang ruang kosong telah berdiri bangunan-bangunan dari sisa-sisa barang bekas.

Kini, aku berada di lantai empat. Ruangan kosong yang membentang tanpa ada bangunan kios. Tapi tetap beratap. Tempat yang nyaman jadinya. Angin yang menyapa di siang ini, membuat diri terasa terobati dari rasa panas.

Di hadapanku, duduk seorang perempuan muda. Kukira umurnya belumlah genap 17 tahun. Aku membayangkan, seandainya saja terawat, ia akan terlihat sangat cantik. Tak kalah dengan bintang sinetron. Tapi nasib kehidupan siapa bisa menebak. Ia, perempuan muda itu, dipaksa untuk mengarungi kehidupan yang sama sekali tidak terbayangkan di kepalaku. Hati terasa sesak mendengar penuturannya. Bayangan pun seringkali lenyap dalam kepala, terasa susah untuk membangun konstruksi kehidupannya. Tapi ia biasa saja, berbicara lancar, tentang hidupnya, aku yang tak kuasa mendengarnya)

Mbak, Jangan menangis, dong. Saya nanti ikut sedih. Benar. Saya tidak mengada-ada. Cerita ini cerita tentang diri saya. Bukan cerita orang lain. Bukan pula khayalan. Sungguh. Jadi, janganlah menangis. Setidaknya, tidak menangis di depan saya. Nanti saya berhenti loh, ceritanya.

Bukankah tadi Mbak sendiri yang minta? Saya telah menyatakan bersedia. Sudah menandatangani persetujuan diwawancarai. Saya bersedia di foto, bersedia pula segala ucapan dicatat dan direkam. Lantas, mengapa Mbak begitu?

Saya sudah bercerita. Bercerita apa adanya. Malah, Mbak-e gak tahan mendengarnya? Dibuat santai saja, Mbak. Dianggap saja saya sedang mendongeng. Saya saja, yang menjalani, yang bercerita, tetap bisa bertahan. Kalau gak tahan, saya sudah mati dari dulu, Mbak. Atau setidaknya sudah menjadi gila. Kalau gila, pastilah tidak bisa cerita. Eh, kalau gila, Mbak-e pasti juga tidak akan menghubungi dan meminta saya, ya…

Terus-terang, saya sudah lupa bagaimana menangis. Lama saya tidak menangis. Menangis percuma buat saya. Tidak ada pengaruh apa-apa. Kalau saya menangis, lalu bisa dilahirkan kembali, saya tentu akan menangis, Mbak. Atau misalnya saya berubah tempat, berada di rumah sendiri, saya akan menangis, Mbak. Apalagi bila di rumah ada Bapak ada Ibu ada kakak ada adik yang saling menyayangi. Saya akan menangis menggerung-gerung. Seperti anak kecil. Saya tidak akan malu-malu. Tapi, nyatanya bukan begitu, Mbak. Saya hrus berhadapan dengan kehidupan nyata saya. Menangis malah buat capek. Membuang energi. Tidak merubah apa-apa. Karena itulah saya menganggap percuma. Kehidupan menyedihkan macam apa yang belum pernah saya lihat? Semuanya sudah saya saksikan, bahkan saya alami. Jadi saya malas menangis. Saya tidak tahu apakah masih ada air mata di dalam diri saya.

Tolong, dong, Mbak, jangan menangis, ya. Biar saya lanjutkan cerita. Padahal tadi baru pembukaan loh. Saya baru menyatakan tidak tahu siapa Ibu. Tidak tahu siapa Bapak. Tidak tahu siapa keluarga. Mau tanya kepada siapa? Tidak ada yang tahu, Mbak.

Pak Min dan Mpok Nah, semula saya kira orangtua kandung saya. Tapi nyatanya, bukan. Saya jadi paham. Sebelumnya saya sering protes dalam diri sendiri. Merasa tidak diperlakukan seperti anaknya. Seperti dibedakan dengan orang-orang yang saya anggap kakak dan adik saya. Seluruh pekerjaan di rumah dibebankan kepada saya. Masak air, memasak, mencuci pakaian, mencuci gelas dan piring kotor. Setelah itu bergelut dengan sampah-sampah, menyisihkan barang-barang yang laku dijual. Ya, pada akhirnya saya menjadi paham. Mereka memang bukan orangtua kandung saya.

Saya memang kabur. Siapa yang tahan dipukuli terus menerus? Dimaki-maki. Disebut anak Syetan juga. Padahal saya gak tahu syetan seperti apa. Mereka juga belum tentu tahu. Tapi saya tahu, sebutan itu jelek dan merendahkan. Apalagi Pak Min, berulang kali mencumbu paksa. Ingin memperkosa, saya, Mbak-e. Untungnya selalu gagal. Saya selalu bisa meloloskan diri. Biar saja saya pergi. Siapa tahu ada peruntungan baik buat hidup saya. Biar tahu rasa Pak Min dan Mpok Nah, kehilangan setoran 100 ribu sehari. Iya, Mbak.. itu yang ditargetkan buat saya. Kalau kurang, wah, bisa kena hajar lagi..

(Pikiranku melayang-layang. Sungguh. Banyak pertanyaan di kepala, menggedor-gedor ingin keluar. Lantas siapakah dia? Kemana orangtuanya? Apakah anak ini diculik dari orangtua kandungnya? Ya, seperti di sinetron-sinetron sekarang ini? Atau…? Ah…. sungguh… seandaianya aku jadi dia….)

Mbak, jangan menangis dong. Saya jadi resah kalau lihat orang nangis. Bingung mau ngapain. Mau ikutan nangis, pasti gak bisa. Bener, Mbak. Malah bingung saya. Ayo, toh, Mbak-e….

Saya itu, tadi bilang. Saya kabur. Kabur dari rumah. Kabur dari perkampungan di pinggiran kali, di pinggiran tempat pembuangan akhir sampah-sampah kota itu. Kata orang bau sekali. Tapi saya tak pernah terganggu. Mungkin karena biasa, kali, ya Mbak. Sejak bayi. Sampai sebelum saya meninggalkan tempat itu. Selalu saja menghirup aromanya. Malah, kadang-kadang jadi kangen juga dengan buanya… he.he.h.e.he.he.

Ya, itu, Mbak-e. Tujuan saya, kabur sejauh-jauhnya. Tapi ya, bingung juga. Saya tidak pernah keluar dari perkampungan itu. Saya gak tahu bagaimana kehidupan di luaran. Saya asal naik kendaraan saja. Saya membawa uang 200 ribu. Saya ambil dari bawah bantal mpok Nah. Angkutan berkeliling. Setiap ditanya mau turun mana, saya cuma bilang nanti masih jauh. Sampai supir bilang, sudah sampai. Saya turun. Di sebuah terminal. Ramai sekali. Saya bingung. Benar-benar bingung. Perut lapar. Saya masuk warung. Saya pesan makanan yang saya suka. Saya makan banyak, loh, Mbak. Habis, kalau di rumah, dijatah. Tidak bisa tambah. Uh, nikmatnya makan dengan bebas.

Setelah makan, bingung lagi. Keluar dari warung, Cuma memandang angkutan datang pergi. Sampai ada pengamen. Mendekati saya.

”Ngamen bareng, yuk,” katanya.

”Wah, gak bisa nyanyi,”

”masak cakep-cakep gak bisa nyanyi. Tapi gak papa. Suara jelek, orangnya cakep pasti diberi. Yuk ngamen,”

Dia langsung tarik tangan. Padahal belum kenal. Saya nyanyi. Dia pakai kentrung. Naik turun bus dan angkutan kota.

“Wah, luar biasa. Kamu hebat, kita bisa jadi partner,” katanya, “tinggal di mana?”

Aku diam.

”Tinggal di mana?”.

Aku diam. Bingung. Tidak tahu mau menjawab apa.

Ya, itulah Mbak. Itu pertamakali saya kenal di luar orang di perkampungan dengan tempat pembuangan sampah. Anak itu hampir sebaya. Mungkin 13 tahun. Saya sendiri gak tahu pasti umur saya. Kata orang-orang antara 10-12 tahun sih. Pak Min dan Mpok Nah waktu ditanya, malah sewot. “Gak penting tahu umur. Yang penting bisa hidup. Sudah”.

Mbak, jangan menangis, toh. Benar Mbak, saya jadi bingung. Tersenyum toh, Mbak. Ah, Mbak. Sudah ah, saya gak mau cerita. Padahal saya mau cerita panjang loh, Mbak. Tapi Mbaknya nangis terus. Ya, sudah.

Jangan menangis, Mbak. Saya jadi bingung. Sungguh Saya bingung nih, Mbak.. Ah, Mbak-e….. Jangan menangis dong. Sebab saya gak bisa ikutan nangis… Air mata saya mungkin sudah gak ada, Mbak.. Mbak-e……!

Yogya. 17 Januari 2011 dikembangkan lagi tanggal 3 Juli 2011

______________________

ilustrasi gambar diambil dari SINI

Tulisan Terkait:

Bagian Satu

Bagian Dua

Bagian Tiga

Bagian Empat

Tinggalkan komentar

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.